RIBA ADALAH TEMPAT PELARIAN PALING SUNYI

 



Ada laki-laki yang tidak jahat.

Ia tidak kurang cinta.

Ia hanya kalah oleh tekanan yang tidak pernah sempat ia ceritakan.


Dan riba…

adalah tempat pelarian paling sunyi yang pernah menelan banyak suami.


---


Ada masa ketika seorang suami pulang bukan membawa nafkah,

tapi membawa diam.


Ia tidak lagi bercerita tentang mimpinya.

Ia tidak lagi menatap istrinya seperti dulu.

Ia mulai mudah marah, padahal hatinya sebenarnya rapuh.

Ia mulai menjauh, padahal jiwanya sedang meminta tolong.


Dan istri pun sering bertanya dalam hati:


“Kenapa suami yang dulu lembut, sekarang mudah tersulut?”

“Kenapa suami yang dulu penuh rencana, sekarang hanya penuh lelah?”

“Kenapa ia terasa jauh, padahal tubuhnya ada di sampingku?”


Jawabannya seringkali satu: riba.


Karena riba bukan hanya memakan harta…

Ia memakan keberkahan,

memakan ketenangan,

memakan kemampuan seorang lelaki untuk memimpin.


Allah sudah memperingatkan:


يَمْحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰا وَيُرْبِى ٱلصَّدَقَـٰتِ


“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah…”

(QS. Al-Baqarah: 276)


Mungkin suamimu tidak tahu ayat ini…

tapi jiwanya merasakan akibatnya.

Sebelum tangannya bangkrut, hatinya lebih dulu kosong.


---


Dan begitulah, perlahan seorang suami berubah:


Dulunya penopang—kini pelarian.

Dulunya pemimpin—kini penghindar.

Dulunya tempat istri bersandar—kini tempat istri menangis sendirian.


Bukan karena ia tidak cinta…

tetapi karena ia merasa kalah.

Kalah oleh tagihan yang mengejar,

oleh penagih yang datang,

oleh hutang yang membengkak,

oleh rasa malu yang menetes pelan-pelan menghancurkan harga diri.


Ada suami yang berkata dalam hatinya:


“Aku ingin menjadi qawwam… tapi aku tidak mampu.”

“Aku ingin menafkahi… tapi aku jatuh.”

“Aku ingin melindungi… tapi aku sendiri ketakutan.”


Dan setiap malam, ia mencoba tidur dengan kegelisahan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.


---


Allah tahu luka itu.

Makanya Allah berfirman:


ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ


“Kaum laki-laki adalah qawwam (penopang, pemimpin, pelindung) bagi kaum perempuan…”

(QS. An-Nisa: 34)


Ayat ini bukan cambuk.

Ayat ini bukan hukuman.

Ayat ini bukan penilaian ekonomi.


Ayat ini adalah pengingat lembut:


Bahwa tugas seorang suami bukan tentang selalu kuat.

Tapi tentang tetap kembali berdiri—meski sambil menangis.


Qawwam bukan laki-laki yang tidak pernah jatuh…

Qawwam adalah laki-laki yang kembali memimpin,

meski hatinya sedang penuh luka.


---


Wahai para istri…


Jika suamimu berubah, bukan berarti ia tidak mencintaimu.

Kadang ia justru menjauh karena ia sangat cinta,

dan ia tidak ingin kau melihatnya gagal.


Maka dekati ia dengan doa, bukan tuduhan.

Rangkul ia dengan tenang, bukan dengan kemarahan.

Katakan padanya:


"Aku tidak membutuhkanmu sempurna…

aku hanya membutuhkanmu kembali."


Karena istri yang baik tidak meminta suaminya kaya—

ia hanya meminta suaminya hadir.


Dan wahai para suami…


Jika hari ini engkau sedang berada dalam tekanan riba,

sedang terpojok hutang,

sedang hampir menyerah,

sedang bersembunyi dari istrimu,

sedang kehilangan harga diri…


Maka ketahuilah:


Istrimu tidak menunggu uangmu.

Ia menunggu tanganmu.

Ia menunggu suaramu.

Ia menunggu kejujuranmu.

Ia menunggu kau berkata:


"Sayang, aku sedang jatuh… tapi aku ingin bangkit bersamamu."


Karena rumah tangga itu bukan tentang siapa yang paling kuat.

Tetapi siapa yang mau terus menggandeng,

meski badai sedang menghantam.


---


Dan ketika suami dan istri memutuskan untuk bangkit bersama,

riba kehilangan kekuatannya.

Tagihan kehilangan kesombongannya.

Tekanan kehilangan suaranya.


Karena Allah sendiri turun membawa pertolongan bagi keluarga yang ingin keluar dari riba.


Rasulullah ﷺ bersabda:


إِذَا حَلَّتِ الْمُصِيبَةُ فِي أَهْلِ بَيْتٍ فَصَبَرُوا، وَهَدَاهُمُ اللَّهُ

“Jika musibah menimpa sebuah keluarga lalu mereka bersabar, Allah akan memberi mereka petunjuk.”

(HR. Ahmad)


Maka, wahai suami…

berhentilah berlari.

Kembalilah menjadi qawwam.

Kembalilah memimpin dengan jujur.

Kembalilah menatap istrimu dengan keberanian.


Dan wahai istri…

jadilah tempat suamimu kembali,

bukan tempat ia takut pulang.


---


Semoga Allah menguatkan para suami yang sedang kalah,

menguatkan para istri yang sedang berjuang sendirian,

dan mengembalikan rumah tangga kita ke dalam sakinah, mawaddah, dan rahmah-Nya.


Aamiin.

Yogyakarta 6 Desember 2025

Dikutip dari Artikel

Sutrisno Nurhumaedi 

Pendamping Keluarga Korban Riba


Komentar

Postingan Populer