OBAT LUKA BAGI KORBAN RIBA


 

RENUNGAN AL-ISRÂ’:82 — JAWABAN UNTUK HATI YANG SUDAH LETIH BERJUANG


Kadang seseorang datang kepada saya dengan curhatan yang perih:


“Pak… saya ini sudah tahajud setiap malam.

Saya menangis di sajadah.

Tapi kenapa hutang riba saya tidak kunjung selesai?

Kenapa masalah malah makin rumit?”


Lalu saya mengajak dia tenang, tarik napas pelan-pelan…

Karena untuk luka yang dalam, Allah menjawabnya dengan ayat yang sangat lembut…


وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ ۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا


“Dan Kami turunkan Al-Qur'an sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman;

dan ia tidak menambah bagi orang-orang zalim selain kerugian.”


Dan saya berkata kepadanya…


---


✅ 1. Tahajudmu memang benar… tetapi luka spiritualmu belum sembuh


Tahajud itu cahaya.

Doa itu kekuatan.

Zikir itu penopang.


Tetapi riba… meninggalkan luka spiritual yang dalam.

Ia menusuk di tempat yang tidak terlihat.


Luka itu membuat hati sesak, pikiran kusut, dan langkah seolah terkunci.

Dan untuk luka seperti itu, Allah memberikan obat yang berbeda:


Syifâ'… penyembuhan.

Bukan sekadar jawaban.

Bukan sekadar pelunasan.

Tapi pemulihan jiwa.


Kadang Allah tidak langsung menyelesaikan utangmu…

Karena Allah sedang menyembuhkan dirimu.


Jika jiwa belum sembuh,

beres satu masalah… akan muncul masalah yang lain.


---


✅ 2. Saat semua jalan tertutup, Allah turunkan Rahmat


Ada orang berkata:


“Saya sudah berusaha, tapi tetap mentok.”


Dan saya jawab:


“Di titik mentok itu… rahmat turun.”


Karena rahmat bukan sekadar “ditolong”,

tetapi dibimbing menuju jalan yang benar.


Rahmat itu muncul dalam bentuk keberanian mengakui kesalahan.

Rahmat itu muncul dalam keberanian berkata:


“Saya harus tinggalkan riba ini sekarang.”

“Saya harus jujur menyusun kronologi.”

“Saya harus terbuka pada keluarga.”

“Saya harus ikut bimbingan.”

“Saya harus menjalani proses syar’i dan legal.”


Rahmat itu sering hadir bukan sebagai jalan pintas,

tetapi sebagai kejelasan arah.


---


✅ 3. Lalu kenapa Allah berkata: “ia tidak menambah bagi orang zalim selain kerugian”?


Ayat ini bukan untuk menghakimi…

tetapi untuk menggugah.


Karena sebagian orang ingin keluar dari masalah riba,

tapi tidak mau berhenti meminjam lagi.

Sudah tercekik… masih gali lubang tutup lubang.

Sudah hancur… masih menunda taubat.


Maka Al-Qur’an mengingatkan:


Selama seseorang mempertahankan kezalimannya,

maka ayat-ayat Al-Qur’an tidak bisa menjadi obat.

Yang ia dapat hanya “bertambah rugi.”


Bukan karena Allah tidak menolong.

Tapi karena ia masih memegang faktor yang melukai dirinya sendiri.


Bagaimana luka sembuh jika yang melukai tidak dilepas?


---


✅ 4. Sekarang kita lihat ke belakang… ayat 79–81.


Ketika kita mundur tiga langkah, kita menemukan rangkaian yang sangat indah:


✔️Ayat 79 — Tahajudmu adalah derajat.


Allah memerintahkan Nabi ﷺ bangun malam:


وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ…

“Bangunlah pada sebagian malam…”


Tahajudmu tidak sia-sia.

Ia sedang mengangkatmu dari dalam gelap.


Tetapi tahajud bukan tujuan akhir.

Ia adalah “tangga” menuju penyembuhan.


✔️Ayat 80 — Doamu harus disertai permohonan jalan keluar.


Doa Nabi:


وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ…

“Ya Rabb, masukkan aku ke pintu masuk yang jujur…”


Ada pesan sangat halus:

“Kejujuran adalah pintu semua penyelesaian.”


Dan apa keluhan korban riba?

Selalu sama:


“Saya bingung memulai dari mana…

saya malu…

saya takut.”


Lalu Allah menjawab:

“Mulailah dengan kejujuran.”


✔️Ayat 81 — Kebenaran harus ditegakkan, kebatilan harus diputus.


قُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ

“Katakan, kebenaran telah datang dan kebatilan pasti lenyap.”


Bagaimana mau sembuh dari riba

kalau kebatilannya masih dibiarkan hidup?


Orang yang mau sembuh harus berani mengambil langkah-langkah ini:


stop gali lubang tutup lubang,


stop minjem ke fintech dan rentenir,


stop ngumpet dari kenyataan,


akui total semua angka,


bersihkan yang haram sedikit demi sedikit.


Karena hak tidak bisa datang kalau batil masih disimpan.


✔️Ayat 82 — Baru kemudian Allah berkata: “Inilah obatnya.”


Setelah tahajud…

setelah kejujuran…

setelah memutus kebatilan…


Barulah ayat penyembuhan turun:


وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ…

“Dan Kami turunkan Al-Qur’an sebagai penyembuh…”


Di titik ini, jiwa yang tadinya retak… mulai pulih.

Pikiran yang sempit… mulai lapang.

Hati yang gelap… mulai terang.


Dan perlahan…

pelan-pelan…

jalan keluar yang tidak terpikirkan…

akan satu per satu dibukakan oleh-Nya.


---


Akhirnya saya sampaikan begini…


“Masalahmu memang berat.

Tetapi bukan Allah yang lambat…

kadang kita yang belum selesai disembuhkan.”


Jika engkau teruskan tahajudmu,

engkau jujur dan terbuka,

engkau tinggalkan riba total,

engkau susun kronologi dengan benar,

engkau ambil langkah syar’i dan legal…


Maka Syifâ’ itu akan bekerja.

Rahmat itu akan turun.

Dan kerugian itu akan berubah menjadi kemenangan.


Karena Allah tidak pernah mengecewakan

hamba yang pulang dengan luka…

dan mau disembuhkan sepenuhnya.


---


✅ Mari Kita Ringankan Beban Saudara-Saudara Kita


Jika tulisan ini menyentuh hatimu,

tolong bagikan.

Mungkin ada satu orang di luar sana

yang sedang memeluk lututnya di sudut kamar,

tidak tahu harus ke mana…

dan Allah mengirimkan tulisan ini lewat tanganmu.


Semoga setiap share menjadi amal jariyah,

menjadi sebab berkurangnya beban jiwa

dan terselamatkannya saudara-saudara kita

dari jeratan utang riba.


Barakallahu fiikum.


Gunungkidul, 9 Desember 2025.


Sumber Artikel 

Sutrisno Nurhumaedi 

Pendamping Korban Riba




Komentar

Postingan Populer